Pertarungan sengit Prabowo Vs Jokowi

Tuesday, December 4th 2018. | obrolan

Artikel tentang dua kandidat pemimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sebenarnya telah saya tulis sejak tahun 2014, tulisan ini bukan ditujukan untuk mendukung salah satu calon presiden tersebut tetapi ini hanya untuk mengajak agar para pendukung pasti keduanya untuk menampilkan kampanye yang positif bukan negatif yang menjelekan salah satu diantaranya. Atau dengan tujuan sengit, maksud saya apapun yang ditulis oleh kubu pak Jokowi atau pak Prabowo jika dipandang oleh kubuh lainnya yang militan dianggap sesuatu yang layak untuk dicibir, karena saya amati di sosial media hal ini banyak nampak disana.

Sudah lama saya tidak update di blog pribadi saya ini, rasa-rasanya sudah sangat rindu untuk menulis tetapi saya juga tidak punya ide lain menulis selain yang saat ini sedang booming di dunia maya. Apakah itu? jawabnya adalah pertarungan sengit antara kubu Prabowo dengan kubu Jokowi.

Menurut saya keduanya bagus dan sama-sama putra terbaik dari bangsa Indonesia, siapapun mereka dan apapun latar belakang Prabowo dan juga Jokowi, suka tidak suka hampir bisa dipastikan nanti salah satu dari mereka adalah presiden dari negara tercinta ini Republik Indonesia.

Oleh karena itu saya sendiri menjadi heran dalam masa kampanye ini ternyata dari kedua pendukung fanatiknya, baik dari Prabowo maupun Jokowi masing-masing saling menjatuhkan. Apakah mereka tidak berfikir hal ini justru merugikan diri mereka sendiri? Apakah mereka tidak berpikir jika yang dijatuhkan atau dijelekkan itu nanti seandainya menjadi presiden mereka? Apakah mereka tidak berfikir jika yang dicaci-maki tiap hari di facebook atau twitter akan menjadi pemimpin mereka? Bayangkanlah ini….

Tetapi tidak semua pendukung dari kedua calon presiden baik Prabowo maupun Jokowi bersikap demikian, ada juga bahkan lumayan banyak yang membuat suatu artikel tentang keunggulan pilihannya tanpa menjelekkan lawannya. Beberapa waktu lalu saya mendapat tulisan yang menurut saya bagus dari kubu Prabowo, saya disini bukan berarti fanatik Prabowo tetapi saya akan menampilkan semua artikel yang sifatnya positif. Kali ini saya menampilkan yang dari kubu Prabowo karena itu yang saya temukan pertama.

prabowo sang penakluk

Isi artikel sebagai berikut : “Kutatap tulus cinta dimatanya
Reaksi jenderal yang dahulu kusangka agresif dan kejam, sungguh diluar dugaan. Tak sekalipun dia menyerang memojokkan lawannya. Tak pula dia menyindir atau menatap sinis lawan debatnya. Bahkan tak segan dia memuji, menghormati pendapat rivalnya.
Saat dipojokkan kembali dengan isu HAM yang menderanya dan membunuh karirnya 16 tahun lalu, dia bisa saja memojokkan kembali dengan menjawab: “tanya kepada bu Megawati, mantan presiden yang pernah mengangkat saya sebagai Cawapres 2009”? Atau bertanya kembali, “kenapa Pak JK sendiri tidak adili saya waktu Bapak menjabat Wakil Presiden?”
Tapi tidak. Memojokkan bukan sifatnya, tidak ada dalam jernih pikirannya. Mungkin karena begitulah sifat ksatria. Sifat seorang negarawan. Maka dia hanya berkata: “tanyalah kepada atasan saya”. Atasan yang kita semua tahu persis berada justru di kubu Pak JK sendiri. Usai debat, beliau bukan hanya hangat menyambut memeluk rivalnya. Juga saat ditanya wartawan, dengan ringan dia menjawab: “saya harus mau diserang”.
Dia juga tidak keberatan pesaingnya berbangga hati menunjukkan prestasi terpilih menjadi kepala daerah. Padahal kita semua tahu bahwa dialah orang yang pertama mengusungnya.
Sejujurnya, tak banyak saya melihat pribadi dengan karakter yang seikhlas dirinya, saat ini. Bathin saya seolah menangkap kilau kepribadiannya. Kepribadian yang akan mampu menyatukan elemen-elemen yang terserak di negeri ini.
Sejarah telah mencatat pengorbanannya untuk bangsanya. Mempertahankan keutuhan NKRI dengan darah dan nyawanya. Dan itu terjadi berulang kali. Di pertempuran di Timor-Timur, dalam misi impossible pembebasan sandera sipil di Mapenduma, penangkapan 2 agen berkulit putih tahun 1984, yang menyulut disintegrasi Papua, dan dalam berbagai operasi tempur berat lainnya. Dia tak tonjolkan semua bakti yang telah ditorehkan untuk ibu pertiwi yang dicintainya, dengan sepenuh jiwa raganya.
Karena itulah, keteguhan kata-katanya memberi makna yang dalam bagi yang memahami bersih nuraninya. “Saya sekian tahun adalah abdi negara, yang membela HAM. Mencegah kelompok radikal mengancam hidup orang-orang yang tidak bersalah,”
Lalu dimana kita? Dimana nurani? Kenapa kita rakyat sipil, yang katanya lebih beradab, dan yang telah dijaga hak hidup dan keleluasaan menjalankan berbagai jenis usaha, masih tetap terdorong memojokkannya. Tidak cukupkah kita menyaksikan betapa para jenderal-jenderal senior yang semestinya berjiwa korsa itu terus menuduhnya sebagai psikopat, gila, pelaku bom natal dan membebankan dosa satu institusi TNI tahun 1998 dipundaknya, seorang sendiri.
Tidakkah hati kita tergerak, untuk sekedar menghargai lelaki yang teguh ini? Mudah-mudahan nurani kita pada akhirnya bisa memaknai semua ini.
Perth, 10 Juni 2014 Ditulis oleh Prayudhi Azwar https://www.facebook.com/prayudhi.azwar dikeheningan winter, 1:27 AM dinihari”

Dengan kampanye model seperti ini saya kira akan lebih positif kedepannya untuk bangsa dan negara Indonesia. Semoga saya banyak menemukan tulisan yang sejenis baik dari kubu Prabowo maupun Jokowi untuk saya masukkan di blog pribadi saya ini. Insyaallah kedepan saya juga menampilkan pendapat saya pribadi juga mengenai pilpres ini, semoga nanti saya sempat dan diberi kesempatan untuk menulis apa yang saya rasakan sesuai pendapat saya. Tunggu ya di artikel yang akan datang.

tags: , , ,

Masukkan email anda untuk berlangganan artikel dari saya:

Delivered by FeedBurner

Leave a Reply